Ponsel Terbaru

Blog info singkat ponsel terbaru, berita kesehatan dan gaya hidup kekinian

Minggu, 01 Juli 2018

Penyakit Usus Bocor, Penyebab dan Gejalanya

Dalam dunia kesehatan yang makin modern, penyakit usus bocor mungkin pernah Anda dengar. Penyakit ini merupakan sindrom usus dengan beberapa gejala yang harus diperhatikan. Selain itu, kebocoran usus berhubungan dengan banyak penyakit yang disebabkannya.

Gaya hidup yang berlebihan dengan dipengaruhi pilihan diet yang buruk, stres kronis, konsumsi makanan tidak sehat dan ketidakseimbangan bakteri, tampaknya dapat membuat gejala usus bocor menjadi epidemi.

Alasan sindrom usus bocor sangat penting

Baru-baru ini penyakit usus bocor disebut sinyal yang bahaya untuk penyakit autoimun. Fungsi usus yang buruk dan tingkat peradangan yang tinggi, beresiko tinggi pada masalah pencernaan. Ada empat langkah yang efektif memperbaiki usus bocor, mencakup menganti makanan pemicu dari diet, mengkonsumsi suplemen yang bermanfaat dan menyeimbangkan mikroflora Anda dengan probiotik.

Bapak kedokteran modern, Hippocrates, mengatakan, “Semua penyakit dimulai di usus.” Lebih dari dua ribu tahun setelah kematiannya, penelitian ilmiah sekarang telah membuktikan kepada hal yang pernah dianggap berbeda di tahun yang lalu.

Selama lebih dari tiga dekade, studi penelitian telah diterbitkan tentang kekebalan, fungsi usus dan bagaimana diet dan gaya hidup modern secara negatif berkontribusi terhadap kesehatan secara keseluruhan dengan merusak sistem pencernaan.

Usus dilindungi oleh satu lapisan sel epitel khusus yang dihubungkan bersama protein. Gejala usus bocor adalah konsekuensi dari kerusakan fungsi sambungan usus. Akibatnya penyimpangan kerusakan usus yang bocor mengaliri darah.

Berikut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Immunology menjelaskan tentang patologi usus bocor.

Lapisan epitel usus, bersama dengan faktor-faktor yang disekresikan, membentuk penghalang yang memisahkan peredaran dalam tubuh. Dalam kondisi patologis, lapisan epitel dapat memungkinkan racun, antigen, dan bakteri dalam lumen memasuki aliran darah menciptakan usus bocor.

Ketika terjadi usus bocor, partikel kecil tertentu yang seharusnya tidak dapat memasuki aliran darah mulai membuat celah dan tercampur dalam darah. Ada juga kelainan umum di usus yang berasal dari molekul antimikroba, imunoglobulin dan aktivitas sitokin, karena sebagian besar sistem kekebalan Anda ditemukan di dalam usus.

Akibat yang ditimbulkan usus yang bocor adalah gangguan peradangan akut dan kadang-kadang reaksi autoimun. Bagian normal dari respons imun yang berfungsi melawan infeksi dan penyakit dipaksa bekerja berlebihan, sehingga mengarah ke peradangan kronis, yang merupakan akar dari sebagian besar penyakit .

Beberapa penyebab yang mendasari usus bocor meliputi:

Predisposisi genetik - orang-orang tertentu mungkin lebih cenderung mengembangkan usus bocor karena mereka sensitif terhadap faktor-faktor lingkungan yang memicu tubuh untuk memulai autoimun.

Diet yang buruk - terutama diet yang mencakup alergen dan makanan seperti biji yang tidak bertunas, gula tambahan, minyak olahan, makanan sintetis, dan produk susu konvensional.

Toksin berlebihan - termasuk konsumsi makanan dan minuman berlebihan dan komposisi pengobatan yang tinggi. Rekomendasi terbaik untuk mengatasi toksin berlebihan diantaranya membeli filter air berkualitas tinggi untuk menghilangkan klorin dan fluoride, hal ini berguna untuk mengurangi peradangan di tubuh.

Ketidakseimbangan bakteri - berarti ketidakseimbangan antara spesies bakteri yang menguntungkan dan berbahaya di usus. Sejumlah besar bukti menunjukkan bahwa mikrobiota usus memiliki peranan penting dalam mendukung penghalang epitel dan mencegah reaksi autoimun.

Setidaknya 10 persen dari semua transkripsi gen yang ditemukan di sel-sel epitel usus terkait dengan kekebalan, proliferasi sel dan metabolisme diatur oleh mikrobiota usus.

Gejala usus bocor yang paling menonjol meliputi:

  1. Tukak lambung
  2. Diare menular
  3. Irritable Bowel Syndrome ( IBS )
  4. Penyakit radang usus (Crohn's, ulcerative colitis)
  5. Pertumbuhan Bakteri Usus Kecil ( SIBO )
  6. Penyakit celiac
  7. Kanker esophagus dan kolorektal
  8. Alergi
  9. Infeksi pernafasan
  10. Kondisi peradangan akut (sepsis, SIRS, kegagalan organ multiple)
  11. Kondisi peradangan kronis (seperti  radang sendi )
  12. Gangguan tiroid
  13. Penyakit metabolik terkait obesitas (perlemakan hati, diabetes tipe II, penyakit jantung)
  14. Penyakit autoimun (lupus, multiple sclerosis, diabetes tipe I, Hashimoto, dan banyak lagi)
  15. Penyakit Parkinson
  16. Sindrom kelelahan kronis
  17. Kecenderungan terhadap kenaikan berat badan atau obesitas

Artikel ini bukan karya jurnalistik atau bentuk penelitian dan merupakan pendapat pribadi. Untuk informasi detail, silahkan melakukan konsultasi dengan tenaga ahli agar mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar