Ponsel Terbaru

Blog info singkat ponsel terbaru, berita kesehatan dan gaya hidup kekinian

Selasa, 29 Mei 2018

Smartphone Mengubah Kehidupan Anak Dalam Banyak Hal

Melihat kehidupan anak jaman now, mungkin sudah banyak perubahan yang jauh berbeda sebelum teknologi smartphone mengguasai dunia. Bahkan tidak sedikit ditemukan usia anak kecil hingga orang tua yang mengalami kecanduan untuk terus bersama dengan smartphone sepanjang hari. Tanpa adanya usaha dari orang tua untuk membatasi penyempitan dunia nyata anak menuju dunia maya, hal ini tentu saja akan semakin mempercepat perubahan perilaku anak menderita kelainan pada hubungan sosial nyata.

Mengutip laman Healthline yang merilis tentang seorang anak perempuan dari keluarga Colleen Hartz yang berusia 19 tahun, jarang terlihat tanpa ponselnya di tangan. "Dia menggunakannya untuk segalanya, menyimpan jadwal kalender, mendengarkan musik seorang diri, Dia juga terlihat sering berkomunikasi dengan teman melalui teks. Ada banyak hari dimana dia tidak melakukan percakapan nyata dengan siapa pun. ” keluh ibu dari Alabama.

Anak yang mulai terlihat semakin aktif dengan smartphone saat ini tidak sedikit. Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Common Sense Media menemukan bahwa 72 persen remaja merasa seolah-olah mereka perlu segera menanggapi pemberitahuan dari ponsel mereka, dan 59 persen orang tua merasa remaja mereka kecanduan perangkat seluler mereka.


Menurut dokter spesialis AAP Dr. David Hill (ketua AAP Council on Communications and Media), kecanduan ponsel yang sebenarnya akan membawa dampak pada perilaku kompulsif. “Apakah anak itu cukup tidur? Olahraga? Waktu nyata dengan teman dan keluarga? Apakah pekerjaan rumah sudah selesai? Ini adalah pertanyaan yang perlu diperhatikan orang tua untuk ditanyakan saat mendeteksi anak semakin intern dengan smartphone.

Kecanduan sejati dari smartphone memang terjadi, ulas Healthline. “Penggunaan Handphone, terlebih pengaruh gaming online di internet. Mungkin sebagian besar remaja tidak menderita kecanduan sejati terhadap smartphone, namun secara pasti mereka akan mengalami masa kecil yang berubah karena teknologi yang tersedia bagi mereka."

Proses Pertumbuhan dan Pengembangan Diri
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu di jurnal Child Development, remaja saat ini mengalami perjalanan yang lebih lambat untuk mendapat tanggung jawab sebagai orang dewasa daripada sebelumnya. Dan para peneliti menyimpulkan, bahwa keterlibatan smartphone dan tablet menjadi sebagian pemicu yang menghambat proses pertumbuhan dan pengembangan diri yang maksimal. Dampak kemudahan smartphone yang diketahui sangat mudah dengan koneksi pada media sosial, hanya dengan beberapa klik saja, dan anak hingga orang tua cenderung tidak meninggalkan rumah mereka dan mencari koneksi di dunia nyata.

Bahkan ketika mereka berada di dunia, banyak yang masih mengalami kesulitan dalam melepaskan ponsel mereka. Ini adalah fenomena Melissa Bragg, seorang ibu di Virginia, ketika keluar bersama anak perempuannya yang remaja. “Beberapa temannya tetap menggunakan ponsel mereka terus-menerus, bahkan di acara remaja. Mereka tidak dapat menyingkirkan ponsel mereka untuk apa pun."

Tingkah laku seperti ini benar-benar mendorong terhadap kecanduan sejati pada smartphone. Dan keluhan lain dari Sandra Windham, seorang guru dari Texas ketika mengajar di kelasnya juga. "Kebanyakan anak-anak mulai menunjukan kebiasaan buruk, bukan kecanduan sejati."

John Mopper, pakar terapis remaja dengan Blueprint Mental Health di Somerville, New Jersey menjelaskan tentang pengaruh smartphone yang terjadi, “Otak kita melakukan persis apa yang harus mereka lakukan. Ketika kita dilahirkan, otak kita seperti hard drive, terus memperbarui dan mengisi pengalaman baru. Ketika semakin terprogram untuk bergerak menuju pemuasan diri dan semakin jauh dari konsekuensi." Penelitian telah menunjukkan bagaimana dampak buruk di smartphone yang dapat mengirim gangguan dopamine. Otak kita mengasosiasikan dengan kesenangan. Dan beberapa anak hingga orang dewasa, tanpa menyadari dopamin dapat menjadi kompulsif. ” Beberapa penelitian lainnya telah mengatakan tentang dampak jangka panjang dari pengaruh smartphone yang bisa berubah menjadi negatif.

Sebuah studi pada tahun 2017 di jurnal Clinical Psychological Science menemukan bahwa remaja mengalami peningkatan waktu pada media sosial smartphone, hal ini menyebabkan peningkatan tingkat gejala depresi yang terkait dengan bunuh diri. Sementara peneliti Jean Twenge mengakui bahwa korelasi dengan sebab-akibat, hasil ini harus berfungsi sebagai peringatan bagi orang tua.

Masalah baru orang tua
Sebenarnya gejala gangguan smartphone tidak hanya memberi dampak buruk pada dunia anak, sebagaimana dijelaskan Windham, orang tua sering menjadi bagian dari masalah, meski tidak terlalu banyak. Terbatasnya ruang sosial seperti yang dialami seorang orang tua cenderung meningkatkan kecanduan smartphone daripada anak-anaknya. Media sosial mungkin menyumbang 90 persen dari sosialisasi akibat tanggung jawab orang tua yang terbatas untuk melakukan sosialitas dengan lingkungan. Dalam sebuah kasusus, orang dewasa akan bergabung dengan terlalu banyak grup Facebook dan terus-menerus menggulirnya saja. Itu bisa menghalangi dalam mengurus tanggung jawab rumah tangga. Terkadang saking asyik dengan percakapan yang terjadi secara online yang berlangsung lama, orang tua baru menyadari ia belum melakukan apapun di dunia nyata.

Disiplin
Untuk mengatasi kecanduan yang semakin merubah kehidupan anak sampai orang tua, pakar psikologis menyarankan para orang tua memulai lebih awal untuk mengajar anak-anak dengan cara yang berbeda. Menjalin hubungan dengan anak-anak di mana mereka dibesarkan untuk melakukan hal-hal lain, ketika mereka masih muda dengan mendidik bahwa ada hal-hal lain dalam hidup yang penting.

Kebiasaan yang salah dari orang tua ketika memperkenalkan smartphone untuk anaknya, sering kali bermula pada usia yang tepat, akibatnya, anak mulai tergantung smartphone pada alasan orang tua saat memperkenalkannya, usia yang tepat dapat bervariasi. Jadi, pertanyaan pertama, 'Mengapa anak Anda membutuhkan perangkat ini?' Setelah orang tua memberi jawaban pertanyaan ini, anda dapat menetapkan aturan. Jauh lebih mudah untuk mulai melakukan dari awal daripada mengambil kesenangan mereka setelah orang tua memberi mereka kebebasan. "

Bagi orang tua tentu selalu punya harapan dan keinginan yang terbaik untuk anaknya, selain proses pertumbuhan yang maksimal sebagai keseimbangan kehidupan online dan dalam kata nyata, memulai interaksi tatap muka yang nyata adalah cara terbaik untuk menjaga teknologi tidak menjadi pemicu keretakan komunikasi dalam keluarga.

Artikel ini bukan karya jurnalistik atau bentuk penelitian dan merupakan pendapat pribadi. Untuk informasi detail, silahkan melakukan konsultasi dengan tenaga ahli agar mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar