Ponsel Terbaru

Blog info singkat ponsel terbaru, berita kesehatan dan gaya hidup kekinian

Sabtu, 12 Mei 2018

Puasa Dan Cara Meningkatkan Percaya Diri Anak

Anak sebagai karunia terbesar yang dipercayakan Tuhan kepada orang tua, seringkali menjadi replika sosok kepribadian yang berpadu secara unik dan mewariskan kepribadian dari dua orang tua. Melalui pola asuh dan didikan yang didapatkan anak sejak usia dini, tidak dapat dipungkiri kita sering mendengar pepatah yang mengatakan "Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya".

Seiring dengan peningkatan kemampuan buah hati, pernahkah kita sebagai orang tua berpikir waktu yang tepat mengajarkan anak untuk puasa ? Kapan saya mengajarkan tanggung jawab yang sesuai umur anak ? dan segudang pertanyaan terkait buah hati yang dapat terlintas ketika memandang kelucuan anak.

Mengutip keterangan dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A(K) yang mengatakan, seorang anak sudah boleh menjalankan ibadah puasa saat buah hati sudah mengetahui makna dan arti puasa itu sendiri. Ketika dia paham arti puasa dan mulai belajar, anak berusia tiga tahun sudah bisa diajarkan berpuasa, tetapi tidak secara mentalitasnya. Jika menilik dari kemampuan fisik seorang anak, waktu yang tepat belajar berpuasa adalah ketika berusia lima sampai enam tahun, idealnya saat masuk pendidikan sekolah dasar (SD) walau tidak full berpuasa, penjelasan dr Rinawati di RSCM Salemba, Jakarta Pusat.


Puasa di bulan Ramadhan adalah diwajibkan bagi seluruh umat Islam. Dengan mengajarkan arti puasa kepada anak di waktu yang tepat, orang tua secara tidak secara langsung sudah mengajarkan sikap hidup sosial untuk saling menghormati , sikap perduli pada orang lain yang berpuasa dalam arti yang sesungguhnya.


Hal yang terpenting dan seringkali terabaikan oleh orang tua, melatih anak kecil akan berbeda dengan memaksakan. Melatih anak untuk puasa di bulan Ramadhan akan berbeda maknanya dengan kewajiban untuk orang dewasa. Dalam Islam secara khusus telah disabdakan oleh Rasul-Nya: "Tidak ada kewajiban syar'i bagi anak-anak yang belum baligh".


Berilah motivasi dalam latihan puasa untuk anak, lakukan pertimbangan yang sesuai kemampuan buah hati. Orang tua tentu lebih paham karakteristik anaknya, seperti riwayat penyakit, kesehatan dan kemampuannya.


Dengan membangkitkan rasa percaya diri anak bahwa mereka punya kemampuan, tentunya akan sangat mempengaruhi sikapnya untuk belajar memulai sesuatu yang baru. Orang tua memiliki peran penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada seorang anak. Dukungan dari orang tua memperkenalkan makna puasa kepada anak, dipercaya satu poin penting meningkatkan rasa percaya diri seorang anak.


Belajar meningkatkan kepercayaan diri anak


Menahan diri untuk mengatakan salah dengan emosi


Perkembangan mental dan kejiwaan anak punya korelasi yang erat dari didikan orang tua dan keluarga. Ketika anak sedang belajar puasa dan melakukan kesalahan, orang tua hendaknya jangan menyalahkan anak, terlebih di depan orang banyak. Kesalahan dari anak bagian proses belajar.


Sebagai orang tua ketika melihat perbuatan atau sikap yang keliru dari anak, sebagai orang tua dapat memberi nasihat dengan kata kata lembut dan tidak emosi. Berilah pemahaman yang seharusnya diperbuat anak ketika berada dalam situasi yang sama dimasa mendatang, hal ini akan menjadi pelajaran yang menyenangkan anak sehingga mereka tahu apa yang seharusnya.


Sesuatu kesalahan yang lebih besar lagi jika kita sebagai orang tua melihat anak melakukan kesalahan, namun karena alasan masih kecil atau anak kesayangan, kita sering membiarkan anak anak bersikap salah, hal ini akan menjadi standar mereka di masa dewasa untuk menunjukan prilaku, bahwa itu bukanlah sesuatu yang salah.


Mungkin kita pernah melihat sosok anak menangis terguling guling di jalan atau di lantai pusat perbelanjaan karena mereka tidak di ijinkan memiliki mainan yang diinginkan. Semua kejadian yang berlangsung saat itu adalah akibat kesalahan didik yang dilakukan dalam keluarga, sehingga anak tidak memiliki pemahaman yang benar.


Jadilah Sahabat dan Orang tua untuk anak saat Puasa


Menjadi orang tua sekaligus sahabat untuk anak mungkin pernah kita dengar dalam seminar psikologi atau dari membaca, namun apakah ada perbedaan mendasar pada pola asuh sahabat dan orang tua untuk anak ?





Referensi pihak ketiga


Menjadi sahabat untuk anak mungkin hal yang tersulit yang di hadapi orang tua modern. Waktu yang hampir tidak tersedia untuk anak, tidak mau mendengarkan cerita anak, dan cape karena pekerjaan, sering menjadi alasan orang tua sebagai pembenaran pada pola asuh yang mereka terapkan dalam keluarga.


Menjadi sahabat untuk anak sebetulnya bukanlah hal yang rumit dan kusut seperti anda bayangkan.


Anak sebagai individu yang rapuh dan masih dalam proses belajar, membutuhkan perhatian orang tua ketika berinteraksi dengan orang lain. Hakikatnya anak dapat bertumbuh maksimal dan percaya diri oleh pemenuhan kebutuhan mendasarnya, yakni kebutuhan fisik, kebutuhan kasih sayang dan kebutuhan stimulasi untuk rangsangan otak.


Sahabat bagi anak dapat dijalankan secara bersamaan oleh orang tua untuk menambah percaya diri anak ketika berminat puasa. Makna sahabat dapat kita lihat dalam seharian anak anak, memperhatikan minat dan pendapat anak saat berbicara tentang puasa, menciptakan suasana gembira saat bermain dan saling menghargai ketika berbuka, dan tentu kita sebagai orang tua lebih mengetahui saat yang tepat untuk berbicara sebagai sahabat untuk anak.


Dengan menjadi sahabat untuk anak, anak lebih mudah untuk bercerita apa yang mereka rasakan, anak akan bertanya untuk masalah yang mereka anggap sulit dilaksanakan.


Jadi jika kita sebagai orang tua ingin menjadi sahabat untuk anak ketika mereka berpuasa, orang tua belajar untuk membiasakan mendengar pendapat anak. Sedangkan fungsi orang tua bagi anak saat menjalankan puasa, dapat diartikan sebagai rasa aman dan nyaman berpuasa, memberi pemahaman nilai hidup, dan kehangatan sebuah keluarga dalam suasana puasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar