Ponsel Terbaru

Blog info singkat ponsel terbaru, berita kesehatan dan gaya hidup kekinian

Senin, 28 Mei 2018

Bahaya Wifi Yang Tidak Terduga, Efeknya Membuat Anak Remaja Meninggal Dunia

Bahaya yang ditimbulkan wifi jarang terekspos media surat kabar mengingat kasusnya tidak terlalu banyak, namun belum lama ini kabar yang mengejutkan bahaya wifi telah membuat anak remaja meninggal dunia secara tidak langsung. Teknologi wifi sebagai media pertukaran data dengan frekuensi gelombang radio, mampu membuat perangkat saling terhubung satu dengan yang lain.
Mengutip laman mirror.co.uk memberitakan, seorang ibu kehilangan anaknya yang bunuh diri lantaran alergi wifi. Penjelasan ilmiah pun menguatkan bahaya wifi merusak kesehatan. Menurut ahli kanker terkemuka ketika memberikan saran, jaringan wifi terpasang di sekolah sepatutnya dilarang karena dampak gangguan kesehatan pada murid-murid. Tentang bahaya wifi yang juga diperkuat Dr. Anthony Miller, selaku penasehat World Health Organization (WHO), mengungkapkan "adanya efek jangka panjang dari paparan gelombang radio tersebut pada tengkorak anak-anak yang lebih tipis dan menyerap lebih banyak radiasi ini," tambah Dr. Miller.

Tingkat bahaya radiasi dari ponsel serta perangkat nirkabel lainnya ternyata terbukti menyebabkan DNA menginduksi kanker pada hewan percobaan. Semakin banyak radiasi terserap, maka semakin seseorang menderita "sensitivitas elektromagnetik" dampak pertama yang terlihat pertama adalah penurunan konsentrasi hingga sakit kepala.
Bahaya radiasi yang ditimbulkan wifi pada seorang anak berusia 15 tahun, seperti yang dilaporkan bunuh diri karena pusing dan menderita gatal-gatal karena terpapar wifi di sekolahnya. Debra, sang ibunda dari anak 15 tahun yang diketahui bernama Jenny tersebut menceritakan bagaimana putrinya mengakhiri hidup.
"Saya percaya dia tidak bisa tahan lagi. Dia mengalami kelelahan luar biasa, sakit kepala dan tekanan telinga. Dia kesulitan berbicara, kulitnya terasa gatal, pusing dan sendinya kaku," ungkap Debra pilu ketika mengenang sang putri tercinta.
Bahkan, Jenny merasa perlu untuk buang air kecil terus-menerus sehingga seringkali meninggalkan kelas.
Sebelum mengalami alergi wifi ini, Jenny adalah murid yang baik dan sehat. "Saya memastikan dia mendapat nutrisi yang tepat, pengaruh yang tepat, dan pendidikan yang tepat. Aku tidak tahu kami sudah mengekspos-nya pada sesuatu yang sangat berbahaya," ucap Debra. Jenny mulai mengalami alergi ketika sekolah memasang jaringan wifi di akhir 2012.
Pada Juni 2015, Debra terkejut mendengar putrinya tidak berangkat ke sekolah. Perempuan paruh baya itu semakin terkejut melihat sosok Jenny yang tengah berada di samping pohon. Debra memanggil nama anaknya untuk memastikan apakah Jenny baik-baik saja sembari berjalan mendekat. Alangkah terkejutnya ketika Debra menyadari sesuatu telah terjadi pada anaknya. "Hanya ketika aku semakin dekat, aku menyadari dia tidak berdiri sama sekali dan ada tali di lehernya," ungkap Debra berlinang air mata.
Pancaran wifi pada tingkat sensitivitas terhadap radiasi elektromagnetik memang telah diakui oleh WHO, namun dampaknya masih belum diketahui dan masih sangat sulit untuk di diagnosis. Para medis tidak menemukan kriteria diagnosis dan tidak ada perawatan yang dapat menyembuhkan.
Begitu pula dengan efek jangka panjang dari paparan teknologi wifi yang masih belum pasti diketahui bisa terakumulasi bertahun-tahun sebelum dapat didiagnosis.
Gejala yang muncul dalam jangka panjang terkena radiasi wifi dan gelombang elektromagnetik
  • penurunan konsentrasi
  • sakit kepala
  • Kanker
  • pusing
  • gatal gatal
  • gangguan telinga
  • Sering buang air kecil berulang ulang
  • Sendi kaku
Sumber :
- mirror.co.uk
- Nova
- Tribun,com


Artikel ini bukan karya jurnalistik atau bentuk penelitian dan merupakan pendapat pribadi. Untuk informasi detail, silahkan melakukan konsultasi dengan tenaga ahli agar mendapatkan bantuan lebih lanjut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar