Jokowi: Sikap Mental Wirausaha

Kemarin saya rapat bisnis dengan group investor dari Arab, Malaysia dan UK. Ada yang menarik penilaian mereka terhadap Jokowi. “Visi presiden anda di luar jangkauan orang biasa. Tetapi mudah dipahami. Cara dia bersikap juga sangat taktis.“ Ketika bicara rencana investasi, dengan tenang presiden anda jawab “Saya tidak peduli dari mana saja investor itu. Swasta nasional atau BUMN silahkan. Bahkan mau China atau Arab, Eropa, Jepang, AS, saya akan dukung. Yang penting bawa uang. Jangan libatkan APBN. Apapun anda mau, kami ada. Saya jamin izin sesuai UU akan segera di keluarkan. Kalau terlambat atau ada keluhan, telp saya. Kami tidak ada urusan dengan politik atau koneksi untuk dapat keistimewaan pelayanan. Siapapun yang bawa uang, kami akan layani secara adil”. Jadi benar di era Jokowi, calo proyek karena akses politik, tinggal masa lalu.
Sikap Jokowi itu sederhana saja, bahwa apapun kegiatan investasi langsung masuk ke Indonesia, maka ketika proyek dibangun, negara akan dapatkan pajak upah, pajak pengadaan, pajak jasa dari semua mereka yang terlibat atas proyek tersebut. Setelah proyek selesai dibangun, kalau untung negara dapat lagi pajak penghasilan sebesar 25%, belum termasuk pajak upah atas para pekerjanya. Kalau proyek itu menghasilan barang mewah, pemerintah dapat lagi pajak atas barang mewah. Kalau mengharuskan impor bahan baku atau barang modal, negara dapat lagi pajak dan bea impor. Kalau sampai proyek itu memerlukan tanah, maka tanah itu akan kena pajak PBB yang tentu nilainya akan naik seiringnya meningkatnya nilai tanah akibat adanya investasi. Dan bila proyek berakhir masa konsesi, proyek kembali dikuasai negara tanpa keluar uang.
Ongkos negara ini sangat besar untuk menutupi APBN yang diatas 2000 triliun rupiah. 80% habis untuk belanja sosial dan gaji pegawai, bayar utang masa lalu. Hanya 20% untuk investasi pembangunan real. Sementara manusia baru lahir terus di Indonesia yang setahun mencapai hampir 2% atau setara dengan penduduk Singapore. Dan seiring itu angkatan kerja juga bertambah lebih 1 juta orang setiap tahun. Tanpa investasi swasta maupun BUMN, dari mana negara dapat pajak? Darimana menampung angkatan kerja? Kalau tidak ada pajak bagaimana bayar gaji jutaan PNS dan POLRI, TNI dan dana Bansos ribuan Ormas? Bagaimana perbaiki jalan yang rusak, waduk yang rusak. Darimana bayar perjalan dinas PNS dan Anggot Dewan yang rakus itu. Dari SDA MIGAS? Ho ho..itu udah lama kita jadi net importir. Yang dijual dibandingkan yang dibeli lebih besar beli. Kita tekor. Pikirkan itu!
Tuhan memang menjamin semua rezeki makhluk tapi Tuhan tidak pernah kirim uang ke ATM kecuali Tuhan mau kita berkerja dan cerdas menyikapi hidup ini. Kalau anda masih ngotot bahwa tidak perlu investasi, maka anda termasuk manusia paling miskin secara spiritual dan intelektual. Suka tidak suka para wirausahaan adalah kaum sufi yang mengaktualkan kehadiran Tuhan untuk cinta dan kasih sayang untuk terjadinya dan berkembangnya peradaban. Peradaban tidak akan terbentuk karena kotbah diatas podium tapi miskin berbuat. Tidak akan ada terbentuk karena zikir dan doa sepanjang usia, tetapi melalui perbuatan, berani menghadang resiko, kerja keras dan cerdas.
Pahamkan sayang.
Kisah dibalik kebijakan Jokowi dapat dibaca buku "Jalan Sepi". Pesan hubungi 
WA 081212199662 atau Uni Ely Bandaro

Subscribe to receive free email updates: