Andaikan Jokowi...

Tadi pagi ada Inbox masuk. Dia bertanya “sejauh mana sih babo suramnya keadaan Indonesia ketika diserahkan ke Pak Dhe?" Saya tersenyum membaca inbox dengan nada lugu. Kalau saya jawab lewat inbox akan panjang, dan tentu akan terjadi dialog panjang. Makanya saya pilih menjawabnya lewat postingan ini agar members bisa membacanya.
Tahukah kamu, sayang. Ketika kali pertama Jokowi masuk Istana, dia mendapati kas belanja kosong, bahkan minus. Untuk bayar hutang dan bunga saja harus cari utangan. Kalau Jokowi cetak uang dengan menjaminkan devisa yang ada maka hanya hitungan minggu, mata uang akan jatuh dan hiper inflasi akan terjadi tanpa bisa di kendalikan lagi. Apalagi devisa hanya cukup untuk belanja 4 bulan. Kalau Jokowi menarik hutang untuk belanja maka itu akan semakin dalam masalah yang ada dan semakin sulit upaya memperbaiki keadaan. Kondisi indonesia saat itu secara makro dalam kondisi genting sekali. Kalau terlambat mengatasi maka akan lebih buruk keadaannya dibandingkan paska kejatuhan Soeharto.
Sementara, untuk membuat kebijakan yang reformis berkaitan dengan APBN tidaklah mudah. Karena DPR dikuasai oleh koalisi Merah Putih. Tentu mereka tidak ingin ada kebijakan yang akan merugikan kepentingan oligarki bisnis dibalik koalisi itu. Terdengar kabar bahwa KMP harus mengamankan bisnis kartel dibidang migas, pangan dan distribusi sembilan bahan pokok. Karena oligarki bisnis yang ada dibalik KMP berjasa menjadikan mereka duduk di DPR. Tetapi itulah kehebatan Jokowi. Dengan nyali yang besar, dia berhasil meyakinkan TNI, dan Polri atas langkah yang harus di lakukannya dalam rangka mengamankan stabilitas ekonomi.
Langkah besar dan berani itu adalah mengalihkan subsidi BBM ke sektor yang produksi dan memangkas belanja pegawai. Dengan restruktur APBN ini maka Pemerintah punya ruang untuk menggerakan mesin ekonomi negara yang terancam bangkrut. Agar APBN kredibel maka sektor yang mengakibatkan biaya ekonomi tinggi seperti impor BBM, Pangan, dan lain sebagainya di hapus dari kegiatan ekonomi. Pada waktu bersamaan Jokowi melakuka reformasi pajak dengan program pengampunan pajak. Dengan demikian daftar wajib pajak semakin tersasar secara akurat dan kedepan potensi pajak akan menjadi potensi ekonomi demi tegaknya keadilan bagi semua.
Setelah APBN kredible maka dampaknya kepercayaan investor institusi kembali bangkit dan Indonesia menjadi radar investasi bagi investor dalam dan luar negeri. Saat itulah Jokowi memanggil pulang SMI agar terlibat menjaga momentum perbaikan APBN dan membuat APBN semakin kredible di hadapan publik. Dengan semakin krediblenya APBN maka pemerintah tidak lagi bekerja atas dasar uang yang ada tetapi money follow program. “Tidak lagi money follow function, jadi yang betul mestinya money follow program, ya program kita apa, kita fokus ke situ“ demikian kata Jokowi setahun setelah dia berkuasa. Saat itu Indonesia sudah menjadi kekuatan sistem yang menjadi magnit financial resource untuk mempercepat pembangunan dan kemakmuran.
Cobalah bayangkan, kalau Jokowi mengikuti rencana yang sebelumnya di era SBY yaitu tetap memberikan subsidi BBM, tetap berhutang untuk konsumsi, tetap mengabaikan pajak, tetap membiarkan bisnis mafia migas, dan lain lain, maka APBN akan kehilangan trust terhadap publik, dan akhirnya mendorong pemerintah mencetak uang seperti ARAB dan Venezuela sehingga berdampak hiper inflasi. Kini di Venezuala orang kehilangan segala galanya dari kemelimpahan subsidi harga yang diberikan pemerintah berpuluh tahun. Tidak ada kemakmuran, yang ada adalah luka parah yang hanya melahirkan pemimpin populis oportunis, menipu dan merampok rakyat.
Anda tidak perlu memuji Jokowi, tidak perlu membantunya kalau tidak ingin mendukungnya, tetapi cobalah jadi orang beriman dan berahlak. Pandai pandailah bersyukur atas karunia Tuhan yang telah melahirkan pemimpin yang tepat disaat yang tepat. Nikmat apalagi yang kamu dustakan, wahai saudaraku?
Pahamkan sayang?
Buku yang mengulas dibalik kebijakan Jokowi dan kinerjanya dapat dibaca buku "Jalan Sepi" Untuk pre order hubungi WA 081212199662 atau Uni Ely Bandaro

Subscribe to receive free email updates: